Mahrus Sholeh adalah nama lengkapnya, biasa dipanggil dengan sebutan Ustadz Mahrus di Madrasah tempat beliau mengajar. Kelahiran di Bangkalan pada tanggal 14 September 1997. Sekarang beliau tinggal di Tlagah Galis Bangkalan. Beliau adalah anak kedua dari enam bersaudara. Yang pastinya beliau anak dari orang tua yang luar biasa dan juga yang selalu setia mendukungnya. Terlahir sebagai kakak dan adik membuat beliau harus menjadi teladan bagi adik-adik dan kakaknya. Mahrus Sholeh adalah seorang ustadz yang mengajar beberapa pelajaran keilmuan tentang islam seperti sejarah kebudayaan islam, nahwu, shorrof dan sebagainya di Madrasah Misbahussholah Pontianak Timur, Kalimantan Barat. Beliau yang saat itu sudah selesai dalam pendidikan MA, dipercaya dan diutus oleh Kiai dari pondok pesantrennya untuk mengajar di Madrasah Misbahussholah sebelum melanjutkan ke perguruan tinggi.
Beliau mengawali pendidikannya di SDN Tlagah 03, lalu Madrasah Ibdtidaiyah Miftahul Ulum dan melanjutkan MTs Darusalam. Setelah itu beliau meneruskan pendidikan MA di Darusalam juga. Kemudian beliau meneruskan kuliah di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Fakultas Ekonomi Syariah.
Beberapa pengalaman organisasi yang beliau ikuti saat kuliah adalah CO.PBA UKM-f dzikir dan fikir, HMI anggota P3A, HMP Anggota Kesma (Kesejahteraan Mahasiswa), dan juga Forkis (Forum kajian ekonomi Islam). Dari serangkaian aktivitas kemahasiswaan itu yang tentunya membuat beliau semakin berwawasan.
Ketika Ustadz Mahrus dipercaya guna mengajar di Madrasah Misbahussholah itu sangatlah menyenangkan karena beliau termasuk orang yang sabar ketika menghadapi santri-santri yang sulit diatur dan juga beliau orang yang tidak mudah marah. Pasti akan selalu ada kenangan setiap beliau mengajar. Ustadz Mahrus ini juga orangnya sangat sederhana dalam hidup, benar-benar memberikan contoh yang baik bagi muridnya. Ustadz Mahrus mengajar di Madrasah Misbahussholah kurang lebih satu setengah tahunan.
Saat masa Ustadz Mahrus mengajar, ada kemajuan di Madrasah Misbahussholah karena pertama kalinya diadakan hafalan qur'an dimulai dari juz amma. Tentunya terjadi hal tersebut bukan hanya beliau, tetapi juga beberapa ustadz dan ustadzah yang juga ikut andil dalam terlaksana kegiatan hafalan tersebut. Salah satunya oleh pemilik yayasan madrasah tersebut yang mempunyai nama Ustadz Fa'al Riyadi yang biasa dipanggil paman. Diangkatan pertama hafalan ini hanya santri yang perempuan saja dikarenakan saat itu yang membimbing hafalan anak pertamanya Ustadz Fa'al Riyadi yang biasa dipanggil dengan sebutan kak Lulu. Serta terdapat ustadz-ustadzah lainnya yang juga ikut andil dalam adanya kegiatan baru ini.
Ustadz Mahrus terus mendorong santri-santri yang mengikuti hafalan qur'an ini dengan memberikan semangat terus agar santri-santri terus menghafal dengan tidak berhenti ditengah jalan. Dengan adanya dorongan dari ustadz-ustadzah, jadi mereka tetap semangat menghafal biar bagaimana pun hafalannya yang akan membawa kita ke surga. Dan juga dengan hafalan qur'an ini, dapat memberikan mahkota kepada orang tua di surga. Beliau selalu berpesan seperti itu. Beliau tidak ada hentinya untuk membangkitkan semangat santri-santri walaupun beliau sibuk dengan pekerjaan yang lain. Seperti cerita yang diatas, tidak hanya beliau yang memberikan semangat tetapi juga beberapa ustadz dan ustadzah yang ada di madrasah.
Beliaulah yang mengatur apapun saat santri-santri yang lulus hafalan juz amma untuk wisuda. Yang selalu menyempatkan diri untuk melatih wisudawan saat dipanggung agar beraturan, yang menyiapkan alat-alat dari kertas untuk wisuda, dan yang selalu sabar untuk mengurus wisudawan yang sulit mengerti. Karena selalu ribut jika latihan, padahal ini untuk memeriahkan acara imtihanan dan juga wisuda angkatan pertama.
Ustadz Mahrus adalah salah satu ustadz yang berjasa dalam suksesnya acara imtihanan dan juga wisuda hafalan juz amma. Beliau tidak memberikan anggaran yang besar bagi para wisudawan. Karena saat itu beliau tidak menetapkan bayaran pada sesi foto bagi yang wisuda. Beliau dan rekannya sesama ustadz juga mencari tempat penyewaan toga dan juga mencari tempat pembuatan semacam medali.
Ustadz Mahrus juga sangat berusaha sebaik mungkin agar acaranya sukses dan meriah. Beliau rela lembur hanya untuk membuat sebuah mahkota, tongkat, dan juga yang lainnya untuk diberikan kepada juara umum. Beliau membuatnya dengan alat dan bahan yang sederhana tetapi akan terlihat indah dan juga menarik. Bahkan ada satu santri Ustadz Mahrus yang berhasil menjadi juara umum diangkatan ketiga. Itu membuat santri tersebut merasa beliau itu salah satu yang berjasa dalam hidupnya.
Ustadz Mahrus ini juga jika mengajar selalu menyenangkan dan dapat mudah dipahami oleh santrinya. Ada salah satu pelajaran yang beliau ajarkan kepada santri-santri yang biasa disebut SKI (Sejarah Kebudayaan Islam) . Kitab SKI ini tulisannya kecil, tetapi beliau mengajarkan dengan baik dan teliti agar santrinya dapat memahami pelajaran tersebut. Kesadarann belaiu terkait pendidikan tak jarang menjadi inspirasi bagi orang lain terutama santri-santrinya dan orang yang berada disekitarnya. Ustadz Mahrus juga pernah berkata "saya ikut senang jika teman-teman banyak yang kuliah" maksud dari teman-teman itu adalah santrinya. Beliau selalu menganggap santri sebagai teman. Dengan itu memudahkan santri tidak canggung jika beliau mengajar. Beliau juga menanamkan sikap disiplin, jujur, bekerja keras, dan banyak membaca, serta tidak perlu malu dalam mencari ilmu terus-menerus.
Ustadz Mahrus pasti memiliki banyak sekali masa-masa sulit dalam hidupnya yang sebagai guru madrasah, akan tetapi beliau tetap menjalani pekerjaan tersebut hati yang ikhlas karena dengan begitu ilmu-ilmu yang telah beliau pelajari dapat bermanfaat.
Ustadz Mahrus juga banyak dikenal dikalangan masyarakat tempat beliau mengajar. Karena beliau termasuk orang yang murah senyum dan sangat menghormati kepada masyarakat setempat ataupun santri-santri beliau serta juga yang lainnya. Bahkan saat beliau akan pulang ke kampung halamannya dikarenakan masa mengajar beliau selesai di Madrasah Misbahussholah, beliau tidak segan pamit dengan mengunjungi satu per satu rumah tetangga-tetangga yang disekitar madrasah. Beliau juga mendapatkan banyak bingkisan dari santri-santri juga masyarakat. Saat beliau pulang banyak juga yang merasa kehilangan, biar bagaimana pun beliau ustadz yang sangat menyenangkan bagi banyak orang. Dan juga banyak kenangan manis yang beliau tinggalkan dimadrasah tersebut. Tetapi ada sedikit cerita sedih saat beliau sampai dikampung halamannya. Bahwa banyak bingkisan yang diberi oleh santri-santri hilang dalam satu koper. Itu sangat membuat beliau sedih karena banyaknya akan kenangan dari masyarakat dan juga santri dimadrasah. Tetapi beliau juga bersyukur karena tidak semua yang hilang, masih ada beberapa yang ada dikoper yang lainnya.
Beliau juga selalu mengingatkan kepada santri-santri nya bahwa jangan pernah melupakan setiap kebaikan seseorang walaupun itu sedikit. Karena kalau kita selalu mengingat kebaikannya, maka kita tidak akan berpikir yang buruk kepadanya. Dan juga sebaliknya, jika kita selalu ingat kejahatan yang pernah dilakukan seseorang kepada kita, maka kita akan selalu berpikiran buruk terhadapnya.
