Sabtu, 26 Maret 2022

Laporan Bacaan Mengenai "Kultur Sekolah" Pada Mata Kuliah Magang 1

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Nama saya Agustina, mahasiswa IAIN Pontianak, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Prodi Pendidikan Agama Islam, semester 4 kelas I. Ini laporan setelah saya membaca dua jurnal tentang kultur sekolah. Sebelumnya kita perlu ketahui terlebih dahulu pengertian dari kultur itu sendiri. Yang mana kultur ini berasal dari bahasa Inggris yaitu culture, yang berarti budaya. Kultur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diterjemahkan sebagai kebudayaan (Depdiknas, 2001:611). Kultur atau budaya adalah sekumpulan aturan yang dibuat oleh masyarakat setempat yang menjadi identitas bersama dan dapat diterima oleh masyarakat. Jadi, kultur sekolah ialah serangkaian aturan yang dibuat bersama oleh seluruh masyarakat sekolah, yang dapat dipelajari untuk menciptakan murid-murid lulusan terbaik sesuai dengan harapan sekolah. Kultur sekolah itu sebagai budaya atau keyakinan bersama yang dipegang oleh seluruh warga masyarakat sekolah dan juga kultur atau budaya yang dimiliki memberikan identitas pembeda dengan sekolah lain. Biasanya kultur atau budaya dalam sebuah sekolah itu menampilkan bagaimana kepala sekolah, guru, siswa dan lainnya yang berada dalam lingkungan sekolah sehingga menjadi sebuah tradisi sekolah. 

Disebutkan dalam buku Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah (Depdikna, 2003:3) menyebutkan bahwa kultur sekolah itu memiliki dua lapisan. Lapisan yang pertama terbagi lagi menjadi dua yaitu ada yang bisa diamati dan ada yang tidak bisa diamati. Contoh lapisan yang bisa diamati seperti interior dan eksterior, tata ruang, kebiasaan dan rutinitas, arsitektur, upacara, aturan-aturan yang ada, bendera, logo, simbol, gambar-gambar, dan cerita-cerita. Contoh lapisan yang tidak bisa diamati seperti berintikan norma perilaku bersama teman-teman organisasi. Sedangkan pada lapisan kedua dalam kultur sekolah itu berupa nilai-nilai bersama yang dianut oleh sekelompok orang berhubungan dengan apa yang penting, yang baik dan benar. Lapisan ini semuanya tidak bisa diamati karena terletak pada kehidupan bersama. 

Kultur sekolah itu bisa sangat mempengaruhi dalam perubahan tingkah laku pada warga sekolah. Ada tiga macam kultur sekolah, yaitu kultur sekolah yang positif, kultur sekolah yang negatif dan kultur sekolah yang netral. Maksudnya gimana? Baik mulai dari macam kultur sekolah yang pertama yaitu kultur sekolah yang bersifat positif. Namanya juga positif, pasti sudah jelas kegiatan yang dilaksanakan itu mendukung dengan sangat pada peningkatan kualitas pendidikan disekolah tersebut. Misalnya, berambisi untuk meraih prestasi dan memberikan penghargaan kepada yang berprestasi serta saling menghargai. Kemudian pada macam kultur sekolah yang kedua dengan sifat negatif ini kebalikan dari yang positif, yang mana kegiatan-kegiatan yang dilakukan itu tidak mendukung pada peningkatan kualitas pendidikan disekolah tersebut. Misalnya, terlalu sering jam kosong dan absen dari tugas, adanya kumpulan siswa yang suka membully, dan saling menjatuhkan. Selanjutnya, macam kultur sekolah yang ketiga yaitu kultur sekolah yang bersifat netral. Yang mana netral yang dimaksud disini ialah kurang berpengaruh dari sisi positif maupun negatif pada peningkatan kualitas pendidikan disekolah tersebut. Misalnya, seragam para guru dan adanya kegiatan yang tidak ada sangkut pautnya dengan kualitas pendidikan, seperti arisan sekolah. (Farida Hanum, 2013: 206)

Secara karakteristik, kultur sekolah itu terdiri dari kultur positif dan kultur negatif. Maksud dari kultur positif adalah budaya yang sangat membantu mutu sekolah dan kehidupan warga yang ada disekolah agar tercipta warga yang sehat, aktif, memiliki semangat yang tinggi, dan profesional. Kultur positif ini akan menjadi modal dalam melakukan perubahan atau perbaikan dari zaman ke zaman. Sedangkan kultur negatif adalah budaya yang memiliki sifat anarkis, negatif sudah jelas, dan bisa dikatakan beracun. Sekolah yang cepat merasa puas dengan apa yang telah dicapai itu bisa dikatakan kultur negatif, karena mereka cenderung tidak memikirkan tentang kedepannya untuk melakukan perubahan atau perbaikan, bisa dikatakan takut untuk mengambil resiko terhadap perubahan selanjutnya. Akibatnya, bukan malah semakin berkualitas, tapi kualitasnya akan menurun. Kultur sekolah berjalan secara tidak disadari oleh warga sekitarnya dan memang telah diwarisaka secara turun temurun. Dalam mengembangkan kultur sekolah, maka perlu dipahami terlebih dahulu nilai-nilai yang baru itu karena tidak akan segera berjalan bila berhadapan dengan nilai-nilai lama yang sudah sangat melekat. 

Kotter mengemukakan bahwa kultur sekolah yang baik merupakan fungsi terbentukanya karakter warga sekolah yang baik pula. Begitupun sebaliknya, jika kultur sekolahnya tidak baik maka fungsi terbentukanya karakter warga sekolah akan tidak baik pula. Di sebuah lembaga pendidikan khususnya sekolah, kultur atau budaya itu ibaratkan nyawa manusia. Tanpa kultur, sekolah bagai raga tak bernyawa. Peran kultur disini sangat strategis dalam organisasi karena menjadi salah satu penentuan keberhasilan pada organisasi tersebut, mulai dari kepala sekolah, guru, staf-staf, bahkan para siswa. Salah satu faktor penghambat pencapaian prestasi sekolah ialah kultur atau budaya sekolah. Oleh karena itu, untuk memperbaiki kualitas pendidikan disekolah maka perlu melihat pada budaya sekolah terlebih dahulu, dengan digaris bawah jika mutu pendidikan ingin diperbaiki. 

Kinerja sekolah adalah prestasi yang telah dihasilkan baik itu dari sebuah proses ataupun perilaku sekolah, yang bisa kita lihat dari produktivitas, efisiensi, inovasi, kualitas kehidupan kerja, dan moral kerjanya (Depdiknas, 2001: 152). Kinerja sekolah meliputi juga kinerja siswa, yaitu hasil dari belajar siswa atau perilaku saat belajar siswa, seperti disiplin, motivasi, daya saing atau daya kerja sama, dan sikap dalam pencapaian prestasi dalam persaingan. Contoh, output sekolah dapat dikatakan berkualitas tinggi jika prestasi peserta didik dalam sekolah itu menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam hal yaitu hasil tes kemampuan akademik siswa seperti nilai ulangan umum, Ujian Tengah Semester, Ujian Akhir Semester, dan juga pada prestasi non akademik seperti bidang olahraga, seni dan keterampilan. Lebih jelasnya prestasi dalam bidang non akademik ini seperti lomba badminton antar sekolah, jadi diambil perwakilan sekolah tersebut yang berbakat main badminton untuk mengikuti lomba itu dengan membawa nama sekolah. Bisa juga dalam lomba renang, dapat dilihat dari tes renang para peserta didik sebelum dipilih untuk mengikut lomba renang misalnya antar sekolah se-provinsi. Jika persaingan lomba tersebut dapat dimenangkan, maka sekolah akan lebih dikenal orang banyak bahkan kualitas sekolah akan meningkat. Jangankan mendapat juara 1, sudah mendapat juara walaupun bukan juara 1 saja bersyukur banget. Tapi, walaupun tidak mendapat juara jangan merasa sedih atau kecewa, jadikan itu motivasi untuk kedepannya agar kita lebih semangat lagi dalam mengikuti lomba tersebut. 

Masyarakat sering kali mempertanyakan kinerja sekolah yang mungkin masih dibawah standar mutu yang diharapkan. Jika ada kasus pada siswanya itulah yang dijadikan bahan hujatan kepada sekolah yang seakan-akan sekolah yang menjadi penyebab masalah tersebut. Terlepas dari benar atau salah, masyarakat atau warga sekitar sekolah seharusnya mendukung perubahan, yang mana dapat menciptakan keberhasilan dalam peningkatan mutu pendidikan dan mutu hasil pembelajaran. Buat masyarakat jangan hanya menghujat saja, tapi juga membantu meningkatkan kualitas sekolah dengan cara mendukung setiap kegiatan positif yang diadakan oleh sekolah. Dan jika ada masalah dalam sekolah, selesaikan dengan baik tanpa adanya kekerasan. Begitupun sebaliknya, pihak sekolah juga harus menghargai masyarakat, laksanakan kultur atau budaya yang akan membawa dampak positif bagi peserta didik dan sekitarnya. Apalagi sampai terjadi hal-hal yang tidak pantas bagi peserta didik oleh gurunya sendiri, yang sampai membuat siswanya tertekan berada disana. 

Dalam perspektif kultur, Djohar, 1999: 127) menyatakan bahwa sekolah itu merupakan tempat mensosialisasikan nilai-nilai budaya, tidak hanya terbatas pada nilai-nilai keilmuan tetapi juga pada semua nilai-nilai kehidupan yang memungkinkan terwujudnya manusia berbudaya. Maksud dari manusia berbudaya itu yang dapat dilihat dari kinerjanya, dilihat dari pengetahuannya, cara berpikir, bersikap, perilaku, cara kerja, dari melihat dan menanggapi serta memecahkan masalah yang terjadi. 

Membahas tentang siswa, bahwa siswa merupakan subsistem dari satu sistem sekolah. Yang mana, interaksi dari komponen-komponen yang ada di sekolah itu dapat menghasilkan kekuatan yang akan mempengaruhi kinerja sekolah, baik positif maupun negatif. Tanpa terkecuali siswa. Nilai dan kebiasaan yang sudah ditanamkan, pesan dan kesan dari contoh dan model yang telah dilihat, juga peristiwa yang telah dialami dan dirasakan dalam interaksinya baik didalam maupun diluar kelas, itu akan menentukan performansi sikap serta perilaku mereka dalam mengembangkan potensi dirinya dan membangun kinerja secara akademik maupun non akademik. 

Menurut Zamroni (2000: 171), menyatakan bahwa setiap interaksi yang berlangsung dalam suatu sekolah tentu akan menghasilkan kekuatan atau energi yang dapat berpengaruh terhadap sekolah, baik positif maupun negatif. Artinya bahwa apapun bentuk interaksi yang berlangsung akan menentukan sifat serta besaran energi tersebut. Energi yang dimaksud akan bersifat positif jika hasil interaksi akan menimbulkan efek motivasi dan semangat lebih untuk bekerja keras dari komponen-komponen didalamnya. Sebaliknya yang bersifat negatif apabila interaksinya akan menyebabkan rasa malas, tertekan dan menurunnya semangat kerja. Menurut Djohar (1999: 126) bentuk, corak, dan warna setiap interaksi dari komponen-komponen yang ada disekolah, sedikit banyaknya dipengaruhi oleh nilai-nilai serta kebiasaan yang diresapi bersama. Ini menyangkut juga apa yang dianggap penting dalam hidup seseorang atau suatu organisasi. Dengan sendirinya hal ini berbeda dari satu organisasi ke organisasi lainnya. Seperti halnya dalam sekolah, ada sekolah yang sangat mementingkan pengetahuan, ada juga yang menganggap kesusilaan yang penting, sementara itu yang lain menganggap keterampilan adalah hal yang lebih berharga. Dengan demikian nilai-nilai inilah yang mendasari keadaan fisik dan perilaku warga sekolah, termasuk juga siswa.

Djohar (Juni 2003), kultur sekolah itu dapat dinyatakan sebagai kultur akademik yang tersusun secara sistematis atau terstruktur, yang mana untuk mengembangkan intelektual kompetensi siswa. Tidak hanya ada kultur akademik, tetapi didalamnya juga terdapat kultur sosial-budaya dan psikologis. Artinya semua peserta didik harus melibatkan dirinya dalam kondisi akademis, terjadwal, terprogram dan juga harus mampu mensosialisasikan dirinya dengan teman-teman sekolahnya, dengan gurunya dan dengan budaya dasarnya. Di samping itu siswa juga harus mengalami adaptasi kejiwaan dalam melakukan respon internal terhadap rangsangan eksternalnya. Jadi, siswa itu harus bisa menempatkan diri dilingkungan sekolahnya walaupun kultur atau budaya yang ada disekolah berbeda dengan yang ada di luar atau dirumah. Tidak hanya harus bisa menempatkan diri, tapj juga harus membiasakan agar kegiatan belajar kita lebih semangat, berjalan lancar, dan lebih merasa nyaman. Jika tidak bisa melakukan itu semua, sebaiknya cari sekolah yang memang memiliki budaya yang diinginkan.

Sekian laporan bacaan saya, kurang lebihnya saya mohon maaf dan terima kasih. 

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 


Sumber bahan bacaan: 

http://sc.syekhnurjati.ac.id/esscamp/risetmhs/BAB21413141013.pdf

Nurul Imtihan, 2018, Jurnal Manajemen Pendidikan Islam

Laporan Bacaan Mengenai "Perangkat Pembelajaran" Pada Mata Kuliah Magang 1

Bismillahirrahmaanirrahiim. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.  Nama saya Agustina, mahasiswa IAIN Pontianak, Fakultas Tarbiya...